Tanggung Jawab Terbesar Manusia

Mungkin judulnya terkesan Over the Edge banget, ato Hi-Bol banget, tapi that’s the image I want you to get! Apa sih tanggung jawab terbesar kita sebagai manusia? I’ll tell you the story dikit demi dikit, okay?

So, inspirasinya dateng ketika sku mengetahui ada seseorang yang made a promise tapi tidak ditepati. Ini mbikin aku berpikir, apa yang menyebabkan orang ini GAGAL menepati janjinya? Kemudian pertanyaan lain muncul: Kenapa dia tidak cukup bertanggung jawab untuk paling tidak berusaha menjaga janjinya sebisa mungkin? Then came the Ultimate Question:

"To whom do we hold our responsibilities, and what for?"
                                        ato dalam bahasa Indon:
"Pada siapakah kit bertanggung jawab, dan mengapa?"

Jawabannya sederhana, and I imagine saying this to my children : Kita masing-maing seharusnya bertanggung jawab pada diri kita sendiri, dan bukan kepada orang lain, bahkan bukan pada Tuhan.

We live our lives for ourselves. Manusia itu egois banget, kita pada dasarnya hanya memikirkan kepentingan diri kita sendiri dan paling cuma menyisakan a teeny bit ouf our thought untuk orang lain. Ini benar, dan berbahaya. Tuhan menyerahkan kita untuk mengendalikan hidup kita sendiri, dan itu ada tujuannya, yaitu untuk mengajarkan kita berpegang pada kata-kata dan perbuatan kita sendiri, dan menerima semua konsekuensinya.

Seringkali kita tidak sadar bahwa kita bertindak egois dan acuh tak acuh. Kita merasa bahwa semua orang itu begitu baiknya pada kita, sehingga mereka menjadi insignificant. Padahal, dengan mengambil sikap sedemikian rupa, kita telah melalaikan tanggung jawab terbesar kita pada diri kita sendiri.

Contoh, kita kuliah dan ternyata kita molor - karena malas dan bored dan fed up (Aku telat lulus karena ada masalah, so jangan disinggung, ok? :p) - tapi kita tidak ambil pusing. Kenapa? Karena orang tua kita yang membayar kuliah kita, dan kita tidak ikut banting tulang… Padahal, yang paling rugi adalah kita. By graduating late, kita melewatkan waktu berharga untuk mencari kerja, memasuki masyarakat, get married, etc… ^^

We have expensive hobbies. Ini gapapa selama kita mampu membiayainya sendiri. Tetapi seringkali kita memupuk dan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan dan hobi-hobi mahal menggunakan dana ortu. Face it, car modification IS a waste of money… (You don’t ride the car, so why should you have a car?) Padahal, kita bisa lihat kalau nanti pada akhirnya kita terikat pada keborosan, dan kita jadi susah kao mau jajan, mau jalan-jalan, mau pacaran, mau married…^^

My point is, kita harus tahu bahwa pada akhirnya, orang tidak akan menilai kita dari hubungan kita dengan orang lain (Ortu, Relatives, Friends, etc), mereka juga tidak akan menilai kita dari apa yang kita miliki, tetapi mereka akan menilai kita dari sikap kita terhadap diri kita sendiri. Bisakah kita mempertanggung jawabkan perbuatan kita? Sadarkah kita akan sebab musabab dan segala alasan terjadinya hal-hal yang terjadi pada diri kita? Or to make it simple, Bisakah kita tidak mengecewakan orang lain (by keeping a promise, for an example) dengan cara menunjukkan dan memberikan the best of us? Sanggupkah ita menjadi orang yang baik dan penuh tanggung jawab, sehingga pada akhirnya dapat mempengaruhi semua orang di sekitar kita untuk bersikap sama?

Picture this: Sebuah lingkungan hidup dimana semua orang saling membantu, bisa diandalkan, ramah, saling menghargai, saling memperhatikan. That is our GOAL. And where do we start? From Ourselves, dengan mulai bertanggung jawab pada diri kita masing-masing…

2 Responses to “Tanggung Jawab Terbesar Manusia”

  1. Elly Says:

    kalo mnrtku ndi.. orang kalo dah bikin janji ya kudu ditepatin la.. kecuali ada ssuatu yang sangat sangat sangat penting shg ga bisa nepatin janjie (yah walaupun gt sih.. hehe) cuma kalo mnrtku lebih baek ga usah bikin janji kalo emang orang itu ga yakin isa nepatin. lebih baek bilang “aku usahain” daripada “ya aku janji!” soalnya kalo da bikin janji trus ga ditepatin mala bikin sebel.. hehe.. dan jadi malah bikin kita + susah percaya sama orang itu.. :)

  2. Stefanus Says:

    betul cenk, emang orang tu kudu bisa bertanggung jawab ama dirinya ndiri. Mnurutku tingkat kedewasaan seseorang dapat dilihat bagaimana dia tuh tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
    Tapi juga tetap harus ada tanggung jawab terhadap orang lain (plus terhadap Tuhan)
    *huehehe case kmu strict banget*

    terhadap Ortu misalnya.. ya emagn sih kita jg rugi klo molor kuliahnya tapi kan kita jg ga bisa tutup mata ama usaha ortu yg nge-biayain kul. kita. Ketika kita peduli terhadap yg ortu lakukan spy kita bisa kuliah, di situ ada wujud tanggung jawab kita. (besar ato kecil tergantung kesadaran tiap2 orang)

    mnurut aku sih kita bertanggung jawab terhadap orang lain itu karena kita mendapat ’sesuatu’ dr orang lain. kita tanggung jawab terhadap orang tua karena mereka yg bayarin kita skul / kul. kita tanggung jawab ama pacar kita krn dapet kpercayaan dr ortunya ato at least dr pasangan kita td.
    aku tanggung jawab ma beti krn dipinjemin deck merah-ijonya.

    manusia adl makhluk kimiawi sehingga ketika ia mendapat sesuatu kepercayaan, seharusnya ia bereaksi dengan bertanggung jawab terhadap kepercayaan itu.

    that’s why they call it : repsons(e)bility

    -stef-

Leave a Reply