Archive for May, 2006

Trouble Ahead

Wednesday, May 31st, 2006

Setelah sekian lama ngga nge-Blog, akhirnya aku nge- blog lagi! @_@ Buset, akhirnya aku punya judul TA, dan aku akhirnya harus mulai ngerancang proposalnya, meskipun I have no clue whatsoever on how to make one! Adi, help me!

But this reminds me of one thing, tantangan dan rintangan selalu ada didepan kita, dan seperti biasa, kita akan dihadapkan kepada dua pilihan, untuk menghadapi rintangan itu, atau run away! Take my case sebagai contoh: aku sebenarnya bisa saja memilih untuk mundur lagi satu semester untuk Tugas Akhirnya, sehingga aku punya waktu untuk berpikir dan mempertimbangan judul dan segala detilnya… Tapi aku sadar, bahwa aku not too happy with the option of being late to graduate, either.

So, aku memilih untuk maju terus! Berjuang dengan waktu yang singkat (kurang dari 1 minggu untuk merancang proposal dan lain sebagainya), semua demi harapan bahwa aku bisa selesai As Soon As Possible~! So guys, doain gue, semoga cepet lulus, paling nggak proposalnya tembus dulu, supaya aku bisa agak santai gitu… T_T

How do you respect others?

Tuesday, May 16th, 2006

Sebagai bahan pertimbangan kalian pembaca ngasi reply pada BlogPost sebelumnya, think about this:

"In what way do you express your appreciation to others?" ato, "Gimana cara kalian menghargai perbuatan orang lain?"

Seringkali kita melalaikan kewajiban untuk mengucapkan terima kasih pada orang lain yang telah menolong, ato mungkin kita took them as granted aja… Ngerasa bahwa mereka memang diletakkan disekeliling kita untuk menolong kita?

Tapi seharusnya kita bisa sadar, bahwa other people have their own lives, bussinesses, affairs, etc. that thay just can’t be arounbd to help us all the time. Karena itu, mungkin ada baiknya kita mulai mengamati, bagaimana kita menyikapi things others have done for us, dan how do we repay them.

So, setelah kita belajar menyikapi orqang lain dan sekurang2nya berterima kasih dan menghargai perbuatan mereka untuk kita, it’s time for us to consider: How do we want others to behave to us?

Kalo kita cuek, dan tidak peduli tentang sikap orang pada kita, then it’s useless untuk bersikap manis ato partisipatif sama orang lain, karena kita tidak akan berusaha memberi sesuatu pada orang lain, dan juga tidak mengharapkan apapun dari orang lain. Bosen banget!

Lain halnya kalo kita masih mau bersusah2 untuk orang lain, tetapi memikirkan balasan… Well, better daripada ngga sama sekali to?

Dan karena semua orang di dunia ini kita anggap aja 99% masih mengharapkan balasan, maka pilih: Balasan dari Teman ato sodarakah yang lebih kita hargai? Apakah dari teman yang mau bersusah payah menolong, ato sodara yang turut menanggung dan mengalami semua yang kamu hadapi tanpa banyak ngeluh…? (Pendapat gue memang bias, aku memilih sodara diatas teman, but don’t let that cloud your judgement…)

"A good friend is like a brother/sister to us, but a good brother/sister will always be more than friends for us."
                                                                                                - I wrote this!

Prioritas: Teman ato Sodara?

Tuesday, May 16th, 2006

Ask yourself: yang mana lebih penting, Teman ataukah Saudara?

Ini adalah sebuah BlogPost yang aku tujukan untuk mendapat respon dari kalian semua. So, tolong dikasi reply dan kasi tahu aku, kamu lebih memprioritaskan Saudara atau teman, dan ketika sudah ada 5 orang gitu yang reply, maka BlogPost yang berikutnya bisa aku rampungin…

So, tell your friends about my Blog and reply, cause the next BlogPost just could be tad useful for you guys who read it!

Btw, Aku mentingin Sodara dari teman, so, kalo ada sodara dan teman yang minta tolong pada saat yang sama untuk dua urusan yang sama sekali beda… aku akan nolongin sodara gue dulu, baru nolongin temen. Kalo masi sempet si…

Dualism in Love

Wednesday, May 3rd, 2006

You’re in love with someone. This person, this Mr/Ms Right is everything you would ever wish to be in a girl/boy-friend. But then you meet this another person, dub him Mr/Ms Next, and you felt just like you’re falling in love again. What happened?

Kasus seperti ini adalah kasus klasik perselingkuhan, but I’ll try to look further inside the case. Menurut hasil pengamatanku, terdapat dua sebab utama yang bisa membawa kita pada kondisi sedemikian rupa, dimana kita sudah memiliki pasangan tapi fellings grow terhadap orang kedua ini.

Sebab #1:
Simple, kita memilih Mr/Ms Right untuk menjadi pasangan kita tanpa pikir panjang! Kita ketemu, berkenalan, telpon, sms, jjs bareng, jadi akrab, dan kamu ngrasa tak ingin lepas - can’t live without gitu… Ditembak, dor! Jadi deh…

Kalo memang kasusnya begini, ternyata memang helpless… You move too fast, so fast that you can’t see what’s around you. Jalan keluarnya sempit, dan cuma mengandung dua pilihan:

1. Kamu mendingan stick to what you have dan bersyukur dia udah mau ama kamu… Daripada jadi Perjaka/Perawan tua? Dan si Mr/Ms Next dijadiin teman aja. Sahabat baek, ato angkat jadi sodara. Paling nggak, dia tetep berada dalam lingkup persahabatan kita, kan? Yah, we can’t kiss or touch them, tapi paling nggak mereka masi bisa diliatin kan?
2. Lose your girl/boyfriend aja deh! Mungkin kamu belon siap pacaran, belum bisa menjaga komitmen… Daripada kamu gak bisa nahan napzu en ngehamilin dua cewe? (Ato tidur ama dua cowo… if you’re a girl, that is…) So, mending kamu break up ama siapapun pasangan kamu saat ini, dan kem bali bebas lagi aja… biar mau punya TTM ato HTS brapa juga gpp, mau jadi kupu2 ato kumbang juga terserah, mau jadi playboy/girl juga terserah. POkoknya, don’t get yourself involved in a serious relationship with anyone! You’re not ready, and paling juga cuman nglukai hati pasangan kamu kalo kamu sampe berani coba2 pacaran!

Sebab #2:
Love just don’t live here no more… Udah il-fil, liat muka pasangan kita aja udah senep… Apalagi kalo beliau mulai ngrengek ato marah ato nyuruh2 ato ngambek… Mbaah, go to hell aja de!

Kalo begini kasusnya, jalan keluar memang sederhana: Kalo udah can’t go on like this forever karena cuma menyiksa diri sendiri… (kecuali eloh memang klaninan jiwani…) mending cari gebetan baru aja… Kalo kasusnya gini sih, ga ada slahnya nglirik cewek lain, asal kali ini pilih yang baik… Sifatnya, pribadinya, tampangnya, dokunya, masa depannya, masa lalunya, ortunya, familinye, semuanya!

AKhirnya kita simpulkan, pacaran itu butuh Komitmen yang kuat antar kalian sepasang, dan komitmen itu harus dijaga no matter what! Sampenya gagal dijaga, ancur dah hubungan kalian, dan pasti banyak masalah timbul, gak cuma selingkuh doang… Di lain pihak, kalo kalian sepasang masih saling mencinta dan mnyayang serta masih menjaga komitmen dengan baik dan benar, sebaiknya saling sadar dan tahu diri, bahwa kalian udah saling memiliki dan sepantasnya tidak ada tempat selain si dia di hati kamu2 pada.

Remember: "Having lots of friends is good. Having to choose one of them to be our partner in life is better. But living harmoniously with our partner, surrounded by our caring friends is always the BEST!"
                                                                                - Quote this, I made it!

Tanggung Jawab Terbesar Manusia

Monday, May 1st, 2006

Mungkin judulnya terkesan Over the Edge banget, ato Hi-Bol banget, tapi that’s the image I want you to get! Apa sih tanggung jawab terbesar kita sebagai manusia? I’ll tell you the story dikit demi dikit, okay?

So, inspirasinya dateng ketika sku mengetahui ada seseorang yang made a promise tapi tidak ditepati. Ini mbikin aku berpikir, apa yang menyebabkan orang ini GAGAL menepati janjinya? Kemudian pertanyaan lain muncul: Kenapa dia tidak cukup bertanggung jawab untuk paling tidak berusaha menjaga janjinya sebisa mungkin? Then came the Ultimate Question:

"To whom do we hold our responsibilities, and what for?"
                                        ato dalam bahasa Indon:
"Pada siapakah kit bertanggung jawab, dan mengapa?"

Jawabannya sederhana, and I imagine saying this to my children : Kita masing-maing seharusnya bertanggung jawab pada diri kita sendiri, dan bukan kepada orang lain, bahkan bukan pada Tuhan.

We live our lives for ourselves. Manusia itu egois banget, kita pada dasarnya hanya memikirkan kepentingan diri kita sendiri dan paling cuma menyisakan a teeny bit ouf our thought untuk orang lain. Ini benar, dan berbahaya. Tuhan menyerahkan kita untuk mengendalikan hidup kita sendiri, dan itu ada tujuannya, yaitu untuk mengajarkan kita berpegang pada kata-kata dan perbuatan kita sendiri, dan menerima semua konsekuensinya.

Seringkali kita tidak sadar bahwa kita bertindak egois dan acuh tak acuh. Kita merasa bahwa semua orang itu begitu baiknya pada kita, sehingga mereka menjadi insignificant. Padahal, dengan mengambil sikap sedemikian rupa, kita telah melalaikan tanggung jawab terbesar kita pada diri kita sendiri.

Contoh, kita kuliah dan ternyata kita molor - karena malas dan bored dan fed up (Aku telat lulus karena ada masalah, so jangan disinggung, ok? :p) - tapi kita tidak ambil pusing. Kenapa? Karena orang tua kita yang membayar kuliah kita, dan kita tidak ikut banting tulang… Padahal, yang paling rugi adalah kita. By graduating late, kita melewatkan waktu berharga untuk mencari kerja, memasuki masyarakat, get married, etc… ^^

We have expensive hobbies. Ini gapapa selama kita mampu membiayainya sendiri. Tetapi seringkali kita memupuk dan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan dan hobi-hobi mahal menggunakan dana ortu. Face it, car modification IS a waste of money… (You don’t ride the car, so why should you have a car?) Padahal, kita bisa lihat kalau nanti pada akhirnya kita terikat pada keborosan, dan kita jadi susah kao mau jajan, mau jalan-jalan, mau pacaran, mau married…^^

My point is, kita harus tahu bahwa pada akhirnya, orang tidak akan menilai kita dari hubungan kita dengan orang lain (Ortu, Relatives, Friends, etc), mereka juga tidak akan menilai kita dari apa yang kita miliki, tetapi mereka akan menilai kita dari sikap kita terhadap diri kita sendiri. Bisakah kita mempertanggung jawabkan perbuatan kita? Sadarkah kita akan sebab musabab dan segala alasan terjadinya hal-hal yang terjadi pada diri kita? Or to make it simple, Bisakah kita tidak mengecewakan orang lain (by keeping a promise, for an example) dengan cara menunjukkan dan memberikan the best of us? Sanggupkah ita menjadi orang yang baik dan penuh tanggung jawab, sehingga pada akhirnya dapat mempengaruhi semua orang di sekitar kita untuk bersikap sama?

Picture this: Sebuah lingkungan hidup dimana semua orang saling membantu, bisa diandalkan, ramah, saling menghargai, saling memperhatikan. That is our GOAL. And where do we start? From Ourselves, dengan mulai bertanggung jawab pada diri kita masing-masing…