I am what I am!

September 14th, 2006 by d1ce

Been a long time since I last BlogPosted, and heck, did I miss doing this!

So, as a starter, I’m going to go all the way in english this time, just to whip my senses in the intricate delicacies of English… :p

Recently, I’ve found cases of my friends, being questioned due to the jobs they are taking which controverses with their educational background. For an Example, my friend FK (initials, dude…) is an architectural major, but she now works as a Banking Corporation’s Customer Service Officer (and I would say that she’d do her job damn well, too - even though I’ve never seen her at work =))

She said to me once, about how pissed she is by being asked all the time about the career path she chose. But for me, it is all logical because:

"Who we are determine what we do. We are not what we do. We are what we are."

The final point is, that anytyhing you do, remember that you will always be what you are, despite of what you do. And one more thing, never let your job define who you are, but instead, whou you are defines what you do.

Peace!

Is it Love?

June 22nd, 2006 by d1ce

Sometimes, kita terlanjur stuck ama seseorang yang dulu kita rasa perfect banget, tapi sekarang kita ngerasa so sick about him/her. Apa yang harus kita perbuat dong kalo udah gini?

As simple as it is, semuanya tergantung pada diri kita sendiri dan kemauan kita untuk berkomitmen pada hubungan itu. Kalo kita udah commit akan berusaha sebisa mungkin, trust me, no trouble will come to you! Tapi, lebih banyak orang berpacaran tanpa komitmen yang jelas, hell, even without proper reason kenapa mereka sampai pacaran.

Saran gue, next time you pada mau cari pacar, consider this: Apakah kamu mau pacaran karena you lonely banget? Ato kamu pacaran karena semua best friend kamu udah punya pacar sedang cuma kamu doang yang masi single? Or is it REAL, PURE, LOVE terhadap pasanganmu? Ingat, jangan juga sampai terjerumus kedlam pikiran picik bahwa kalian memang saling cinta padahal mungkin saja ada udang dibalik sepatu… Talk to your friends and ask about their opinions. It’ll do you good, I promise.

It’s all important karena sebuah hubungan yang dimulai pada dasar yang kurang jelas akan membawa bencana dan disaster doang ke muke eloh, dan tentunya akan menyebabkan luka yang dalam pada hati kalian masing2. Not to mention things you might have done yang bisa ngerusak nama baek kalian di masa depan. (Cth. Utk Cewek: Premarital Intercoursing, Utk Cowok: Bersikap kasar ama cewek pasangan kamu…)

"Just think it over and over before you decide. It never hurts to consider every possibility."

How to Deal with Problems in LOVE

June 19th, 2006 by d1ce

I recently studied that, ketika kita memiliki masalah dengan pasangan kita, ada banyak (banget) cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. Me, for an example, I don’t really care much about problems and I look at it sebagai sebuah tahap pembelajaran dan saling penyesuaian antara me and my girlfriend. Thank goodness, cewekku juga berprinsip sama…^^

Yesterday, I met seorang temen lama gue, dan dia memiliki kiat yang lain lagi, yaitu tidak ada masalah! "There are no  problems at all, and we aren;t planning on making any…" Sepasang lovebirds yang unique, you might say, tapi they seemed perfectly fine, tuh… Kalo salah satu dari mereka berdua melakukan sesuatu yang should have made kita cembokur (cemburu, gitu loooh…), eh ternyata bagi mereka itu fine-fine aja, malah encouraged demi menjaga kesehatan hubungan pertemanan masing-masing pihak… (I gotta admit, yang satu ini memang hebat… Salutations, girl!)

But the point is, bahwa aku juga mengenal dan pernah mendengar cerita dari pasangan2 yang cenderung bersikap higly destructive terhadap hubungan mereka. How? Misalnya, si cowok tidak nelpon, si cewek langsung nuduh si cowok ga sayang. Ato si cewek pigi wihout telling the cowok, then the cowok bilang mending putus aja kalo ga mau jujur blak-blakan. Atau mungkin mereka cukup shut up and never talk, dengan alasan supaya cool off, tapi memangnya ada yang cool off sampe hari-harian? Panas banget??!

So, jangan mengambil sikap yang akan kamu sesali. Dan bersikap destruktif dalam berpacaran itu jelas akan kamu sesali. Tumbuh kembang bersama kekasih dalam naungan cinta adalah sesuatu yang indah, tetapi bukan sesuatu yang ‘indestructible’ sampe kita wajib menguji ketahanannya terhadap cobaan, kan? Bersikaplah yang dewasa, terimalah pasangan kita apa adanya, dan belajarlah untuk bertoleransi pada setiap kelemahan pasangan kita. That is, if you want to keep your lover by your side… :p

"Love is strong, but not THAT strong. Never test those you don’t want to lose…"

-atau diterjemahkan…-

"Cinta itu kuat dan tegar, tetapi tidak pernah sekuat yang dugaan kita. Karena itu, janganlah mencobai mereka yang kita sayangi bila kita tidak ingin kehilangan mereka."

It All Happened in a Flash!

June 12th, 2006 by d1ce

A few days ago, aku menghadiri sebuah undangan pernikahan, dan aku harus menjemput seorang teman ibuku, sekaligus juga ayah dari teman baikku. The party went well, and we went home. The surprise caught us in the morning ketika ada telpon masuk yang mengatakan bahwa ayah temanku itu, yang semalam duduk disampingku itu ternyata baru saja meninggal. God rest his soul!

Aku cuma ingin menuliskan sebuah pendapat pendek, bahwa Hidup itu indah namun pendek, dan kita harus bisa menikmati dan mensyukuri setiap detik yang kita jalani. Adalah sebuah kenikmatan terbesar untuk bisa hidup bahagia dan dicintai oleh orang-orang disekitar kita, dan akhirnya melewati sisa hidup kita disamping semua orang yang berarti bagi kita.

In Honoring Memory of Mr. Hendrik Thandean.

Against All Odds

June 6th, 2006 by d1ce

Terus terang aja, aku baru aja dapet teguran di kantor… See, the problem is: Aku terlalu sering bolos dan menebus bolos itu setelahnya. Ini salah? Seharusnya tidak! Seharusnya it’s okay! But what do they tell me? The told me that I better kerja Lembur dulu, baru bolos kemudian! Padahal, dulu waktu aku baru masuk, aku cuma diberi tahu bahwa as long as the average workhour per week is 25 hours, then it’s OK!

Tapi semua telah berubah, wtf?! >_< Jujur aja, jadi males kerja gw! Picture this, ngerjain satu kerjaan yang sama lebih dari 6 bulan, disamping kerjaan yang sebenernya hampir gak ada (jadi aku cuman bengong aja di kantor…), dan perasaan capek PLUS Tugas Akhir yang looming around the corner!

Tapi aku belajar satu hal dari semua messed up event ini: Bahwa kita harus tetap berpegang pada komitmen kita, bahwa kita tidak bisa berubah pikiran atau tiba-tiba had a change of heart dan seketika itu juga jadi males trus banting stir! I took this job karena aku pingin pengalamannya dan perlu dhuwitnya. Aku sadar betul akan fakta itu, dan aku memutuskan bahwa sebenarnya tidak ada alasan untuk aku tiba-tiba brenti kerja dan… dan… dan ga tau mau ngapain kalo aku sampe brenti kerja!

Jadi apapun yang terjadi aku rasa paling baik kalo kita take a deep breath dan try to look at masalah kita dari sudut pandang yang berbeda. Dengan cara ini, aku yakin kita dapat menemukan inti dari permasalahan yang kita hadapi. Misalnya, dalam kasusku tadi, masalahnya cuma aku yang kurang senang atas inkonsistensi kebijakan kantor sehingga ngerasa jengkel dan ZUNTUK abezz!! Tapi sesudah aku nyadarin semua itu, I can rebuild my COMMITMENT all over again!

"Never give up, never look back. Because troubles will never give up on troubling you, and never look back on your victory over it."
                                                                            - Quote this, I made it!

Trouble Ahead

May 31st, 2006 by d1ce

Setelah sekian lama ngga nge-Blog, akhirnya aku nge- blog lagi! @_@ Buset, akhirnya aku punya judul TA, dan aku akhirnya harus mulai ngerancang proposalnya, meskipun I have no clue whatsoever on how to make one! Adi, help me!

But this reminds me of one thing, tantangan dan rintangan selalu ada didepan kita, dan seperti biasa, kita akan dihadapkan kepada dua pilihan, untuk menghadapi rintangan itu, atau run away! Take my case sebagai contoh: aku sebenarnya bisa saja memilih untuk mundur lagi satu semester untuk Tugas Akhirnya, sehingga aku punya waktu untuk berpikir dan mempertimbangan judul dan segala detilnya… Tapi aku sadar, bahwa aku not too happy with the option of being late to graduate, either.

So, aku memilih untuk maju terus! Berjuang dengan waktu yang singkat (kurang dari 1 minggu untuk merancang proposal dan lain sebagainya), semua demi harapan bahwa aku bisa selesai As Soon As Possible~! So guys, doain gue, semoga cepet lulus, paling nggak proposalnya tembus dulu, supaya aku bisa agak santai gitu… T_T

How do you respect others?

May 16th, 2006 by d1ce

Sebagai bahan pertimbangan kalian pembaca ngasi reply pada BlogPost sebelumnya, think about this:

"In what way do you express your appreciation to others?" ato, "Gimana cara kalian menghargai perbuatan orang lain?"

Seringkali kita melalaikan kewajiban untuk mengucapkan terima kasih pada orang lain yang telah menolong, ato mungkin kita took them as granted aja… Ngerasa bahwa mereka memang diletakkan disekeliling kita untuk menolong kita?

Tapi seharusnya kita bisa sadar, bahwa other people have their own lives, bussinesses, affairs, etc. that thay just can’t be arounbd to help us all the time. Karena itu, mungkin ada baiknya kita mulai mengamati, bagaimana kita menyikapi things others have done for us, dan how do we repay them.

So, setelah kita belajar menyikapi orqang lain dan sekurang2nya berterima kasih dan menghargai perbuatan mereka untuk kita, it’s time for us to consider: How do we want others to behave to us?

Kalo kita cuek, dan tidak peduli tentang sikap orang pada kita, then it’s useless untuk bersikap manis ato partisipatif sama orang lain, karena kita tidak akan berusaha memberi sesuatu pada orang lain, dan juga tidak mengharapkan apapun dari orang lain. Bosen banget!

Lain halnya kalo kita masih mau bersusah2 untuk orang lain, tetapi memikirkan balasan… Well, better daripada ngga sama sekali to?

Dan karena semua orang di dunia ini kita anggap aja 99% masih mengharapkan balasan, maka pilih: Balasan dari Teman ato sodarakah yang lebih kita hargai? Apakah dari teman yang mau bersusah payah menolong, ato sodara yang turut menanggung dan mengalami semua yang kamu hadapi tanpa banyak ngeluh…? (Pendapat gue memang bias, aku memilih sodara diatas teman, but don’t let that cloud your judgement…)

"A good friend is like a brother/sister to us, but a good brother/sister will always be more than friends for us."
                                                                                                - I wrote this!

Prioritas: Teman ato Sodara?

May 16th, 2006 by d1ce

Ask yourself: yang mana lebih penting, Teman ataukah Saudara?

Ini adalah sebuah BlogPost yang aku tujukan untuk mendapat respon dari kalian semua. So, tolong dikasi reply dan kasi tahu aku, kamu lebih memprioritaskan Saudara atau teman, dan ketika sudah ada 5 orang gitu yang reply, maka BlogPost yang berikutnya bisa aku rampungin…

So, tell your friends about my Blog and reply, cause the next BlogPost just could be tad useful for you guys who read it!

Btw, Aku mentingin Sodara dari teman, so, kalo ada sodara dan teman yang minta tolong pada saat yang sama untuk dua urusan yang sama sekali beda… aku akan nolongin sodara gue dulu, baru nolongin temen. Kalo masi sempet si…

Dualism in Love

May 3rd, 2006 by d1ce

You’re in love with someone. This person, this Mr/Ms Right is everything you would ever wish to be in a girl/boy-friend. But then you meet this another person, dub him Mr/Ms Next, and you felt just like you’re falling in love again. What happened?

Kasus seperti ini adalah kasus klasik perselingkuhan, but I’ll try to look further inside the case. Menurut hasil pengamatanku, terdapat dua sebab utama yang bisa membawa kita pada kondisi sedemikian rupa, dimana kita sudah memiliki pasangan tapi fellings grow terhadap orang kedua ini.

Sebab #1:
Simple, kita memilih Mr/Ms Right untuk menjadi pasangan kita tanpa pikir panjang! Kita ketemu, berkenalan, telpon, sms, jjs bareng, jadi akrab, dan kamu ngrasa tak ingin lepas - can’t live without gitu… Ditembak, dor! Jadi deh…

Kalo memang kasusnya begini, ternyata memang helpless… You move too fast, so fast that you can’t see what’s around you. Jalan keluarnya sempit, dan cuma mengandung dua pilihan:

1. Kamu mendingan stick to what you have dan bersyukur dia udah mau ama kamu… Daripada jadi Perjaka/Perawan tua? Dan si Mr/Ms Next dijadiin teman aja. Sahabat baek, ato angkat jadi sodara. Paling nggak, dia tetep berada dalam lingkup persahabatan kita, kan? Yah, we can’t kiss or touch them, tapi paling nggak mereka masi bisa diliatin kan?
2. Lose your girl/boyfriend aja deh! Mungkin kamu belon siap pacaran, belum bisa menjaga komitmen… Daripada kamu gak bisa nahan napzu en ngehamilin dua cewe? (Ato tidur ama dua cowo… if you’re a girl, that is…) So, mending kamu break up ama siapapun pasangan kamu saat ini, dan kem bali bebas lagi aja… biar mau punya TTM ato HTS brapa juga gpp, mau jadi kupu2 ato kumbang juga terserah, mau jadi playboy/girl juga terserah. POkoknya, don’t get yourself involved in a serious relationship with anyone! You’re not ready, and paling juga cuman nglukai hati pasangan kamu kalo kamu sampe berani coba2 pacaran!

Sebab #2:
Love just don’t live here no more… Udah il-fil, liat muka pasangan kita aja udah senep… Apalagi kalo beliau mulai ngrengek ato marah ato nyuruh2 ato ngambek… Mbaah, go to hell aja de!

Kalo begini kasusnya, jalan keluar memang sederhana: Kalo udah can’t go on like this forever karena cuma menyiksa diri sendiri… (kecuali eloh memang klaninan jiwani…) mending cari gebetan baru aja… Kalo kasusnya gini sih, ga ada slahnya nglirik cewek lain, asal kali ini pilih yang baik… Sifatnya, pribadinya, tampangnya, dokunya, masa depannya, masa lalunya, ortunya, familinye, semuanya!

AKhirnya kita simpulkan, pacaran itu butuh Komitmen yang kuat antar kalian sepasang, dan komitmen itu harus dijaga no matter what! Sampenya gagal dijaga, ancur dah hubungan kalian, dan pasti banyak masalah timbul, gak cuma selingkuh doang… Di lain pihak, kalo kalian sepasang masih saling mencinta dan mnyayang serta masih menjaga komitmen dengan baik dan benar, sebaiknya saling sadar dan tahu diri, bahwa kalian udah saling memiliki dan sepantasnya tidak ada tempat selain si dia di hati kamu2 pada.

Remember: "Having lots of friends is good. Having to choose one of them to be our partner in life is better. But living harmoniously with our partner, surrounded by our caring friends is always the BEST!"
                                                                                - Quote this, I made it!

Tanggung Jawab Terbesar Manusia

May 1st, 2006 by d1ce

Mungkin judulnya terkesan Over the Edge banget, ato Hi-Bol banget, tapi that’s the image I want you to get! Apa sih tanggung jawab terbesar kita sebagai manusia? I’ll tell you the story dikit demi dikit, okay?

So, inspirasinya dateng ketika sku mengetahui ada seseorang yang made a promise tapi tidak ditepati. Ini mbikin aku berpikir, apa yang menyebabkan orang ini GAGAL menepati janjinya? Kemudian pertanyaan lain muncul: Kenapa dia tidak cukup bertanggung jawab untuk paling tidak berusaha menjaga janjinya sebisa mungkin? Then came the Ultimate Question:

"To whom do we hold our responsibilities, and what for?"
                                        ato dalam bahasa Indon:
"Pada siapakah kit bertanggung jawab, dan mengapa?"

Jawabannya sederhana, and I imagine saying this to my children : Kita masing-maing seharusnya bertanggung jawab pada diri kita sendiri, dan bukan kepada orang lain, bahkan bukan pada Tuhan.

We live our lives for ourselves. Manusia itu egois banget, kita pada dasarnya hanya memikirkan kepentingan diri kita sendiri dan paling cuma menyisakan a teeny bit ouf our thought untuk orang lain. Ini benar, dan berbahaya. Tuhan menyerahkan kita untuk mengendalikan hidup kita sendiri, dan itu ada tujuannya, yaitu untuk mengajarkan kita berpegang pada kata-kata dan perbuatan kita sendiri, dan menerima semua konsekuensinya.

Seringkali kita tidak sadar bahwa kita bertindak egois dan acuh tak acuh. Kita merasa bahwa semua orang itu begitu baiknya pada kita, sehingga mereka menjadi insignificant. Padahal, dengan mengambil sikap sedemikian rupa, kita telah melalaikan tanggung jawab terbesar kita pada diri kita sendiri.

Contoh, kita kuliah dan ternyata kita molor - karena malas dan bored dan fed up (Aku telat lulus karena ada masalah, so jangan disinggung, ok? :p) - tapi kita tidak ambil pusing. Kenapa? Karena orang tua kita yang membayar kuliah kita, dan kita tidak ikut banting tulang… Padahal, yang paling rugi adalah kita. By graduating late, kita melewatkan waktu berharga untuk mencari kerja, memasuki masyarakat, get married, etc… ^^

We have expensive hobbies. Ini gapapa selama kita mampu membiayainya sendiri. Tetapi seringkali kita memupuk dan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan dan hobi-hobi mahal menggunakan dana ortu. Face it, car modification IS a waste of money… (You don’t ride the car, so why should you have a car?) Padahal, kita bisa lihat kalau nanti pada akhirnya kita terikat pada keborosan, dan kita jadi susah kao mau jajan, mau jalan-jalan, mau pacaran, mau married…^^

My point is, kita harus tahu bahwa pada akhirnya, orang tidak akan menilai kita dari hubungan kita dengan orang lain (Ortu, Relatives, Friends, etc), mereka juga tidak akan menilai kita dari apa yang kita miliki, tetapi mereka akan menilai kita dari sikap kita terhadap diri kita sendiri. Bisakah kita mempertanggung jawabkan perbuatan kita? Sadarkah kita akan sebab musabab dan segala alasan terjadinya hal-hal yang terjadi pada diri kita? Or to make it simple, Bisakah kita tidak mengecewakan orang lain (by keeping a promise, for an example) dengan cara menunjukkan dan memberikan the best of us? Sanggupkah ita menjadi orang yang baik dan penuh tanggung jawab, sehingga pada akhirnya dapat mempengaruhi semua orang di sekitar kita untuk bersikap sama?

Picture this: Sebuah lingkungan hidup dimana semua orang saling membantu, bisa diandalkan, ramah, saling menghargai, saling memperhatikan. That is our GOAL. And where do we start? From Ourselves, dengan mulai bertanggung jawab pada diri kita masing-masing…